Relevansi Kurikulum Merdeka dan Inovasi Deep Learning dalam Pendidikan Indonesia

  • Jan 22, 2025
  • Rastono Sumardi
  • Artikel, Sastra

Oleh : Rastono Sumardi *

Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di Indonesia, telah menjadi subjek evaluasi dan diskusi di berbagai kalangan, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat umum. Tujuan utama dari kurikulum ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran, mengurangi beban akademik, mendorong kreativitas dan inovasi guru, serta membentuk karakter siswa yang mandiri dan kritis.

Kajian Ilmiah tentang Relevansi Kurikulum Merdeka

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menilai relevansi Kurikulum Merdeka dalam konteks pendidikan modern. Salah satu studi menunjukkan bahwa kurikulum ini berperan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hal ini dicapai melalui fokus pada materi esensial dan relevan dengan isu lingkungan, pengembangan karakter dan kompetensi siswa yang berorientasi pada pemecahan masalah, serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang aktif dan partisipatif.

Selain itu, penelitian lain menyoroti relevansi Kurikulum Merdeka dengan model pembelajaran abad ke-21 dalam perkembangan era Society 5.0. Kurikulum ini dianggap mampu mendorong siswa untuk mencapai keterampilan 4C, yaitu critical thinking, communication, collaboration, dan creativity, yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan era digital.

Tanggapan Masyarakat dan DPR terhadap Kurikulum Merdeka

Penerapan Kurikulum Merdeka telah memicu berbagai respons dari masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Beberapa anggota DPR menyatakan perlunya evaluasi mendalam terhadap implementasi kurikulum ini untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan pendidikan nasional. Kekhawatiran muncul terkait kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kesenjangan antara daerah dalam mengadopsi kurikulum baru ini.

Sikap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan akan mengkaji kembali penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah-sekolah saat ini. Beliau menekankan bahwa meskipun kurikulum ini telah diterapkan secara nasional, penerapannya belum merata di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi komprehensif untuk memastikan efektivitas dan relevansi kurikulum ini dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Gagasan Baru: Deep Learning dalam Pendidikan Indonesia

Abdul Mu'ti juga memperkenalkan pendekatan "deep learning" sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013 (K13), melainkan sebuah metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman siswa secara mendalam.

Pendekatan deep learning ini menekankan pada pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, yang diharapkan dapat membuat proses belajar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Melalui metode ini, siswa didorong untuk memahami materi secara mendalam, bukan sekadar menghafal, sehingga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam berbagai konteks.

Implementasi deep learning dalam kurikulum nasional masih dalam tahap pengkajian dan pematangan. Abdul Mu'ti menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengkaji materi-materi pembelajaran, termasuk urutan dan tingkat kesulitannya, untuk memastikan pendekatan ini dapat diterapkan secara efektif di seluruh Indonesia.

 

* Sekretaris DKISP Banggai

* Koordinator Satupena Provinsi Sulawesi Tengah

* Ketua KIM Bonua Sastra Banggai