“LANGIT PAGI MEMBEKU BIRU”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)
- Jun 26, 2025
- Rastono Sumardi
- Sastra, Puisi Leni Marlina
llustration of “LANGIT PAGI MEMBEKU BIRU”:
A Poetry Collection by Leni Marlina
(PPIPM–Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, Penyala Literasi, ASM, ACC SHILA, WPM–Indonesia)
Image Source: © 2025 Leni Marlina — Book Cover Design by Starcom Indonesia, Ref. No. 25–00030.
1/
LANGIT PAGI MEMBEKU BIRU
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit pagi membeku biru,
bukan biru cerah, tapi biru ziarah—
warna yang mengantar ruh
tanpa sempat menoleh.
Ia bukan langit yang turun membawa wahyu,
melainkan ayat yang tercerabut
dari mushaf sejarah
dan dibiarkan melayang
seperti duka tanpa nama.
Seorang ibu menyisir bayangan anaknya
dengan sisir patah dan gerimis kenangan.
Bukan rambut yang ia rapikan,
melainkan waktu—
waktu yang pecah
di antara dua azan
yang tak lagi menemukan makmumnya.
Kini doa bukan lambaian ke langit,
tapi gema yang meresap ke pori-pori tanah—
karena hanya bumi
yang masih setia
menerjemahkan bahasa luka
yang tidak diizinkan terucap.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/2/
MENETAS DARI RETAKAN PUING
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Burung-burung kami menetas dari retakan puing,
lahir dari telur sunyi
di reruntuhan hari yang belum sempat dimulai.
Bukan ranting yang jadi sarang mereka,
melainkan jendela pecah
yang menganga oleh berita pagi
yang lebih tajam dari granat.
Sayap mereka bukan lambang kebebasan,
melainkan tameng dari mata
yang telah menjelma peluru,
dan kamera
yang merekam luka
dengan estetika kebohongan.
Angin kehilangan alfabetnya.
Damai menjadi kata asing
yang tak lagi punya suku kata.
Yang tersisa hanya serpih huruf
yang beterbangan
seperti debu dari doa yang hangus.
Dan kami pun belajar:
bahwa jatuh
adalah bentuk lain dari terbang—
jika dijalani dengan kasih
dan dirawat oleh makna.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/3/
MENULIS DARI ABU NAPAS
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jika peluru adalah diksi kekuasaan,
maka puisi adalah ruang sunyi
di mana napas manusia
tidak perlu dibenarkan.
Aku menulis dari abu napas
yang tertahan dalam dada dunia,
dari sunyi
yang tak lagi bisa ditahan.
Kata-kata ini bukan alat,
melainkan tubuh luka
yang bersedia bersuara
agar dunia tahu
masih ada jiwa
yang memilih merawat cinta.
Puisi tidak menuntut kemenangan—
ia hanya ingin menjadi nyala kecil,
yang menuntun
tangan-tangan buta
menuju pintu kasih
yang tak pernah ditutup.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/4/
KALIGRAFI NYAWA
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kerudung tersangkut di kawat berduri—
seperti kalimat terakhir
yang terlepas dari halaman kitab
yang dibakar dengan diam.
Aku bertanya pada reruntuhan:
“Di mana,
saat bayi itu tak lagi menangis
bukan karena kenyang,
tapi karena tertimbun?”
Suara menjawab dari sisi yang tak terlihat:
“Dia ada dalam denyut
yang tetap menyebut cinta,
bahkan saat dunia
telah melupakan maknanya.”
Air mata kami berubah menjadi angka,
dipoles menjadi grafik.
Tapi bagi Tuhan,
setiap tetes
adalah kaligrafi nyawa—
tulisan yang tak bisa dibaca
oleh siapa pun yang masih serakah dan tamak.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/5/
RUMAH-RUMAH YANG DIGAMBAR DENGAN ARANG
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Anak itu menggambar rumah
dengan arang dari cerita
yang belum pernah ia alami.
Atapnya pelangi,
namun pelangi itu
tak muncul dari hujan,
melainkan dari serpih doa
yang ditinggalkan ibunya.
Ia belum tahu air,
tapi tahu bahwa awan pun bisa menangis
tanpa suara.
Ayahnya berkata:
“Kita ini hanya detak
di antara dua sunyi.”
Namun tanah mencatat langkah mereka
seperti doa yang tak sempat disampaikan
kepada langit.
Kamera datang,
mengambil sudut luka paling indah,
lalu pergi,
meninggalkan darah
yang belum sempat diberi nama.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/6/
HAPUS SEGALA BENTUK PENJAJAHAN DI DUNIA
Puisi Karya Leni Marlina
[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ini bukan sekadar puisi.
Ia adalah suara kemanusiaan,
terus menyala
di dalam dada dunia
yang letih dan penuh serpih.
Ia tidak berbicara tentang kematian,
melainkan tentang pilihan—
bahwa manusia tetap bisa tinggal
dalam kasih,
meski rumahnya dibakar, keluarga dan tanahnya dirampas.
Kemanusiaan bukan tentang bertahan,
tapi tentang menolak menjadi batu,
saat luka ingin mengeraskan jiwa.
Kemanusian bukan tentang belas kasihan,
tapi tidak membiarkan nurani berlalu,
saat derita dan air mata menggenangi dunia.
Kita musti bangkit, saling bersatu, saling membahu,
untuk menghapus segala bentuk penjajahan di muka bumi, ya, hapus segala bentuk penjajahan di dunia!
hingga bumi tak lagi kering kerontang, setelah sekian lama menangis sampai kering air mata, ya, hapus segala bentuk penjajahan di dunia!
hingga kita semua bisa berdiri sejajar di bumi milik bersama.
Padang, Sumatera Barat, 2025
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekilas Mengenai Leni Marlina:
Leni Marlina adalah seorang penulis, penyair, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Lahir dan besar di Sumatera Barat, ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra dapat menjadi medium untuk membangun empati dan kebaikan di antara sesama.
Sejak 2006, Leni mengajar mata kuliah bahasa dan sastra, sekaligus aktif membina mahasiswa dalam pengembangan literasi dan karya. Ia percaya bahwa pendidikan dan tulisan adalah dua jalan penting dalam pengabdian kepada masyarakat.
Di dunia kepenulisan, ia aktif di berbagai komunitas literasi, termasuk persatuan penulis Indonesia SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak 2022. Di bawah bimbingan Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung, Leni merasa terus belajar dan bertumbuh sebagai bagian dari ekosistem penulis Sumatera Barat.
Pada Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (Mei 2025), ia menerima penghargaan sebagai Penulis Berpretasi Tahun 2025 dari SATU PENA Sumbar, sebuah apresiasi yang ia terima dengan rasa syukur dan harapan agar semangat menulis tetap tumbuh bersama semangat gotong royong.
Secara global, ia bergabung dengan ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association) yang dipimpin penyair dunia, Anna Keiko. Sejak 2024 ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia, dan pada 2025 diamanahi sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam komunitas duta puisi ACC SHILA—kesempatan yang ia maknai sebagai ruang untuk saling belajar dan mempererat hubungan budaya melalui puisi.
Ia juga tergabung sebagai anggota dari World Poetry Movement (WPM) Indonesia, gerakan penyair dunia yang berpusat di Kolombia, dan di Indonesia dikordinatori oleh Ibu Sastri Bakry.
Keterlibatan Lenni dalam dunia sastra internasional berawal saat menempuh pendidikan Master of Writing and Literature di Australia (2011–2013). Di sana ia pernah tergabung sebagai anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.
Pada 31 Mei 2025, ia bersama sejumlah komunitas yang ia dampingi serta bekerja sama dengan Achmad Yusuf (ketua pelaksana), menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (International Online Seminar on Poetry). Acara ini diinisiasi dan disponsori oleh Media Suara Anak Negeri (suaraanaknegerinews.com, di bawah pimpinan Paulus Laratmase, berkolaborasi dengan Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Bagi Leni Marliina, kegiatan ini adalah bentuk kerja bersama dalam merawat semangat edukasi, literasi, kemanusiaan, dan perdamaian melalui sastra.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: