KUMPULAN PUISI LENI MARLINA (PADANG) "IBU, AKAR YANG MENEMBUS BATU"
- Nov 17, 2024
- Rastono Sumardi
- Sastra, Puisi Leni Marlina
/1/
Ibu, Akar yang Menembus Batu
Puisi oleh Leni Marlina
Ibu, lembutmu adalah rahasia akar yang sabar,
diam-diam merayap di bawah tanah,
tak pernah bertanya kapan kerasnya batu akan retak,
tak gentar meski kekuatanmu tak terlihat.
Dalam senyummu, ada hutan yang bertumbuh,
menghijau dari air mata yang kau siram di malam-malam sunyi,
menembus waktu, menjalar ke kedalaman,
meski tanah di atasnya tampak gersang, tandus, tak bersahabat.
Kau tidak memukul atau memecah,
tapi menyusup, mengisi celah yang sepi,
membawa kekuatan di setiap helai lembutmu,
yang bisa menghancurkan bebatuan sekalipun.
Ibu, kau seperti akar yang tak lelah mencari jalan,
seperti doa yang berbisik dalam senyap,
menggetarkan kekerasan dengan ketabahan,
menumbuhkan kehidupan dari sesuatu yang tak terlihat.
Dalam setiap sabar yang kau tanam di relung waktu,
kau ajarkan kami bahwa kekuatan bukanlah gemuruh,
melainkan hembusan lembut yang terus-menerus,
seperti akar yang tak terlihat, tapi mampu menggoyahkan dunia.
Burwood, Victoria, Australia, 2011.
/2/
Ibu, Puncak yang Tak Mudah Runtuh
Oleh Leni Marlina
Ibu, engkau memiliki puncak yang tak mudah runtuh,
berdiri tegak meski gempa melanda dasar dunia.
Sejak Ayah tiada,
engkau bukan lagi sekadar ibu,
engkau menjadi gunung yang menahan segala badai.
Di dalam tubuhmu, ada energi yang tak pernah surut,
ada api harapan dan kekuatan yang terus menyala.
Engkau memang tak sepenuhnya memahami alam semesta,
tapi di dalam tanganmu, kami menemukan semesta yang kami kenal.
Dalam bibirmu, ada bahasa yang tak pernah mati—
itu adalah doa yang merobek malam,
menyulut fajar dalam dada kami.
Kami bagaikan batu-batu yang menempel di kaki gunung,
berjuang untuk tetap berada di sana,
karena kami tahu—di sana, ada engkau,
puncak yang kokoh tempat berdiri.
Ibu, bahkan ketika dunia runtuh,
pada akhirnya, hanya kau yang tetap berdiri di hati kami.
Burwood, Victoria, Australia, 2011
/3/
Pundak Ibu
Oleh Leni Marlina
Pundak Ibu, bukan hanya sekedar memikul beban dunia, tapi juga temannya hati yang menampung segala kepedihan dan derita,
dan mengubahnya menjadi kekuatan yang lebih besar dari apapun yang pernah kami bayangkan.
Sejak Ayah tiada, Ibu telah jadi langit yang menampung hujan kami,
angin yang menerbangkan segala kegelisahan kami ke tempat yang lebih jauh.
Ibu, engkau bukanlah langit biasa,
engkau adalah langit yang siap menelan segala keputusasaan—
dan melahirkan kekuatan baru penuh harapan .
Kami, anak-anakmu yang tak tahu arah,
menemukan cahaya dalam setiap deru napasmu.
Ibu, pundakmu bagaikan garis horizon yang tak pernah hilang,
selalu ada di sana setiap kali kami menatap, meski langit digulung awan gelap.
Warnambool, Victoria, Australia, 2011
/5/
Doa Ibu Menembus Batas Waktu Derita
Oleh Leni Marlina
Doa Ibu bukan sekedar bisikan lembut,
itu adalah letusan yang menggetarkan bumi,
tapi bukanlah teror—itu adalah letusan cinta yang menyalakan jiwa.
Setiap kata dari bibirmu bagaikan guntur yang tak pernah berhenti menggelegarkan doa,
menyirami kami energi dari doa yang kau beri.
Sejak Ayah tiada,
engkau adalah kekuatan yang merobek langit,
mengguncang segala batasan,
dan menumbuhkan kami di dalam getaran itu.
Kami bagaikan batu-batu yang terlempar dari letusan itu,
terbang jauh, namun selalu kembali kepada api yang sama—
api doamu yang senantiasa menyala.
Ibu, dengan doamu,
engkau ubah sedih kami jadi bahagia, engkau wujudkan mimpi kami menjadi nyata.
Doamu adalah ledakan yang menembus batas waktu derita.
Canberra, Australia, 2012
/6/
Ibu Engkau Pahlawanku
Oleh Leni Marlina
Maafkan aku, Ibu, jika langkahku masih lemah
tak sekuat harapanmu yang mengalir deras,
menyusuri malam-malam panjang,
kau mengusung beban seberat gunung
sendirian, sejak Ayah dipanggil oleh Allah yang Maha Kuasa.
Engkau menjadi perisai keluarga,
berdiri teguh seperti karang di tengah badai,
menghadang gelombang derita yang datang bertubi-tubi.
Keringatmu jadi hujan penyejuk di ladang gersang,
air matamu menjelma embun pagi
menghidupkan asa yang hampir pudar.
Hampir tiga puluh tahun engkau mengarungi waktu,
menopang kami dengan doa yang tak pernah jeda,
dengan kasih yang mengalir seperti sungai tiada akhir.
Meski wajahmu mulai berkerut, tanganmu mulai gemetar,
tak pernah engkau surut mencintai kami,
tak lekang pengorbananmu yang mengakar.
Ibu, engkaulah pahlawan keluarga,
pelita yang tak padam di lorong-lorong gelap,
tempat kami berpulang dan bersandar,
hingga senja berlabuh, dan kita semua pulang pada-Nya.
Clayton, Victoria, Sumbar, 2013
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) "Ibu, Akar yang Menembus Batu". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 207 by A
-------------------
Biografi Singkat
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2011-2013, saat penulis menjalankan studi Master of Writing and Arts di Australia dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria's Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga merupakan mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.