KEMANUSIAAN DALAM PELUKAN RINDU DI NTT
- Sep 20, 2024
- Rastono Sumardi
- Cerpen, Sastra
Di suatu pagi yang cerah di pedalaman Nusa Tenggara Timur, suara ayam berkokok mengiringi langkah Wirda. Dengan langkah mantap, ia menuju Sekolah tempatnya bertugas. Meski di hatinya ada rindu untuk tanah kelahiran di Gorontalo, ia tahu bahwa di sini, di tengah masyarakat yang membutuhkan, hidupnya lebih berarti.
Setibanya di desa, anak-anak berlarian menyambutnya. "Ibu Guru! Ibu Guru!" seru mereka dengan senyuman lebar.
"Halo, anak-anak! Siapa yang sudah siap belajar hari ini?" tanya Wirda sambil membungkukkan badan, membalas semangat mereka.
"Siap, Bu!" jawab salah satu anak dengan semangat.
Saat ia mengajar, berita mengejutkan datang. Suaminya terluka dalam sebuah operasi penyelamatan. Rindu dan cemas menyergap hatinya, tetapi Wirda tahu bahwa ia tidak bisa menyerah.
Ketika kelas usai, seorang ibu desa mendekatinya. "Ibu Wirda, bagaimana kabar suami Ibu? Kami mendengar tentang kecelakaan itu."
Wirda menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata. "Dia sedang dalam pemulihan, Ibu. Terima kasih telah bertanya. Saya akan terus berjuang di sini untuk anak-anak kita."
Ibu itu menggenggam tangan Wirda. "Kami tahu Ibu berjuang keras untuk kami. Kami selalu mendukung Ibu."
"Terima kasih, Ibu. Dukungan kalian adalah kekuatan saya," jawab Wirda, merasa lebih kuat dengan kasih sayang komunitasnya.
Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke desa lain, melewati jalanan berbatu dan hutan lebat. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda desa. "Ibu Wirda, kami membutuhkan bantuan kesehatan di desa kami. Banyak anak yang sakit," katanya.
Wirda menatap pemuda itu, merasakan beban di hatinya. "Kami akan datang. Pendidikan dan kesehatan harus berjalan beriringan. Terima kasih telah memberi tahu saya."
Di malam hari, saat ia berkumpul dengan Ibu Margareta dan anggota komunitas kesehatan, mereka merencanakan misi ke desa tersebut. "Kita perlu membawa obat-obatan dan makanan. Anak-anak harus mendapatkan perawatan yang baik," ujar Margareta.
"Benar, kita tidak bisa membiarkan mereka menderita. Mari kita siapkan semua yang kita butuhkan," kata Wirda dengan semangat.
Hari berikutnya, mereka meluncur menuju desa yang dimaksud. Saat tiba, anak-anak dan orang tua berkumpul, menunggu dengan penuh harapan. "Kami di sini untuk membantu," kata Wirda dengan suara lembut. "Mari kita periksa kesehatan anak-anak dan berbagi sedikit makanan."
Seorang bapak desa berdiri di depan mereka. "Terima kasih, Ibu Wirda. Anda dan teman-teman telah membawa harapan bagi kami."
Wirda tersenyum. "Kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan. Kita semua bersama dalam perjuangan ini."
Hingga beberapa bulan berlalu, suaminya akhirnya kembali dengan selamat. Ketika mereka berpelukan, air mata bahagia menetes di pipi Wirda.
"Ibu, Ibu! Ayah sudah kembali!" seru salah satu anak.
"Ya, Ayah kalian kembali!" jawab Wirda sambil tersenyum lebar.
Di tengah pelukan rindu, mereka merasakan kekuatan cinta dan semangat perjuangan. "Kami akan terus berjuang bersama, meskipun tantangan di depan," ujar suaminya.
Di NTT, Wirda menjadi simbol harapan. Meskipun ia merindukan sahabat-sahabat di Gorontalo, jiwanya telah terikat erat dengan masyarakat di sini. Dalam setiap langkahnya, dengan kasih sayang dan dukungan komunitas, ia terus menuliskan kisah kemanusiaan yang tak akan pernah terlupakan.
Kreator : Rastono Sumardi
Luwuk, 20/09/2024