CINTA YANG TAK SAMPAI

  • Sep 20, 2024
  • Rastono Sumardi
  • Cerpen, Sastra

Mentari dan Darmanto telah saling mengenal sejak mereka masih remaja di desa kecil yang tenang. Mentari, gadis desa yang cantik, selalu menjadi idola pemuda di desa. Di mata mereka, ia bak bintang yang tak terjangkau. Namun, hanya Darmanto yang memiliki perasaan lebih dalam daripada sekadar kekaguman. Ia mencintai Mentari dengan tulus, namun dia tak pernah berani mengungkapkannya. Bagi Mentari, Darmanto hanyalah sahabat yang selalu ada di sisinya, menemani setiap sore di teras rumah sambil tertawa bersama.

Waktu terus berjalan, dan dalam keheningan perasaannya, Darmanto menyaksikan bagaimana Mentari menerima cinta dari Yulius, teman dekat mereka berdua. Hatinya hancur, tapi ia tetap menyembunyikan luka itu. Ia tahu, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Mentari, bahkan jika itu berarti ia harus merelakannya.

Darmanto memilih meninggalkan desa dan pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan. Ia membawa cinta yang tak pernah tersampaikan itu sebagai bahan bakar untuk mengejar impiannya. Kesedihan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan justru menjadi penyemangatnya untuk sukses.


Dua puluh tahun berlalu. Darmanto kini kembali ke desa dengan segala pencapaian yang telah ia raih. Ia telah menjadi pengusaha sukses, namun setiap kali ia menjejakkan kakinya di kampung halamannya, kenangan akan Mentari selalu mengisi ruang hatinya. Gadis yang dulu ia cintai kini telah bersuami dan memiliki tiga orang anak. Kehidupan Mentari tampak mapan, bersama suaminya yang sukses dalam bisnis pertanian. Namun di balik semua itu, hati Mentari kosong, suaminya telah memiliki wanita lain, meninggalkan cinta yang tak utuh.

Suatu hari, dalam sebuah kunjungan kerja ke kampung, Darmanto bertemu dengan Ariani, kolega yang kebetulan mengenal Mentari. Tanpa sepengetahuan Darmanto, Ariani mengajak Darmanto untuk mampir ke rumah Mentari.

“Mas Darmanto, ini Mentari, teman saya,” ujar Ariani memperkenalkan.

Darmanto menatap diam, terkejut, namun ia berusaha tetap tenang. Mentari tak kalah terkejut melihat Darmanto yang dulu kini telah menjadi sosok yang sukses dan berbeda. Hati mereka kembali terhubung dengan kenangan lama yang begitu kuat.

Beberapa minggu kemudian, Ariani mengajak Darmanto untuk berkunjung lagi. Dalam kesempatan itu, Darmanto menyerahkan sebuah buku kepada Mentari.

“Ini, Mentari. Buku ini kutulis tentang kenangan kita di masa lalu,” kata Darmanto sambil tersenyum.

Mentari menerima buku itu dengan tangan gemetar. Di malam harinya, saat membaca, ia terkejut menemukan sebuah bab berjudul "Cintaku yang Bertepuk Sebelah Tangan". Perlahan-lahan, kenangan itu terurai di benaknya, dan ia menyadari bahwa Darmanto selama ini mencintainya. Hati Mentari hancur. Bagaimana ia bisa begitu buta selama ini? Ia tak pernah tahu bahwa di balik senyum dan kebersamaan mereka, Darmanto menyimpan perasaan yang begitu dalam.


Mentari tak mampu menahan perasaannya. Rasa bersalah dan penyesalan membanjiri dirinya. Akhirnya, ia nekat menghubungi Darmanto. Suaranya pecah saat akhirnya Darmanto menjawab telepon.

“Kenapa kita harus bertemu lagi, Mas? Mengapa? Pertemuan ini hanya menyiksa perasaanku,” ucap Mentari di antara isak tangisnya.

Darmanto terdiam, hatinya ikut terluka. Namun, ia tahu, tidak ada jalan kembali. “Mentari, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku tak pernah menyesali perasaanku padamu. Aku hanya ingin kau bahagia. Lihatlah sekarang, kau punya keluarga, suami, dan anak-anak. Itu yang penting.”

“Tapi, Mas... aku merasa bersalah. Ternyata selama ini aku telah menyakitimu tanpa aku sadari,” Mentari berkata penuh sesal.

“Jangan merasa bersalah, Mentari. Aku yang memilih menyimpan perasaanku. Aku tahu kau tak pernah berniat menyakitiku,” jawab Darmanto lembut.

Mentari terisak, hatinya remuk oleh penyesalan yang tak terbendung. “Kenapa kita harus bertemu lagi kalau hanya membuat rasa sakit ini semakin besar?”

Darmanto menarik napas panjang. “Mungkin ini takdir, Mentari. Tapi kita harus kuat. Cinta kita, biarlah tetap menjadi kenangan indah. Aku sudah merelakan semuanya demi kebahagiaanmu.”

“Maafkan aku, Mas. Sesungguhnya... aku juga mencintaimu dulu. Tapi aku tak berani melawan takdir. Sekarang aku tahu, cinta kita terlarang karena kita sudah punya hidup masing-masing,” jawab Mentari lirih.

Darmanto tersenyum tipis meski hatinya perih. “Tak apa, Mentari. Yang penting, kita masih bisa saling menghormati. Aku tetap menyayangimu seperti dulu, tapi biarlah perasaan itu tersimpan dalam. Kita tak boleh merusak apa yang sudah ada.”

Mentari menangis lebih keras, tak sanggup menahan kesedihannya. Namun ia tahu, Darmanto benar. Cinta mereka tak mungkin lagi disatukan. Darmanto, yang dulu mencintainya dalam diam, kini hanya bisa menjadi bayangan masa lalu yang tak tergapai.

“Maafkan aku, Mentari,” Darmanto berbisik pelan. “Mungkin kita tak boleh sering bertemu lagi. Bukan karena aku tak peduli, tapi demi menjaga keluargamu, dan demi menjaga perasaan kita agar tak semakin terluka.”

Mentari mengangguk pelan, meskipun hatinya hancur. “Aku mengerti, Mas. Terima kasih atas semua kenangan indah itu. Aku akan mencoba merelakannya... meskipun sulit.”

Dengan berat hati, mereka berpisah sekali lagi. Kali ini bukan karena jarak, tapi karena cinta yang tak bisa mereka miliki.

Cinta itu tetap hidup, meskipun hanya dalam kenangan.

 

Kreator : Rastono 

Cerpen ini ditulis dengan bantuan AI

Luwuk, 20/09/2024