Cinta yang Mengubah Jalan Hidup
- Jan 16, 2025
- Rastono Sumardi
- Cerpen, Sastra
Oleh : Rastono Sumardi
Arman adalah pemuda jalanan. Ia tak memiliki masa depan, bahkan ia tak tahu apakah hari esok masih akan berpihak padanya. Hidupnya di terminal adalah tentang bertahan. Ia mabuk, berjudi, dan melakukan apapun demi sekadar mendapatkan uang makan. Baginya, agama hanyalah tulisan di KTP. Ia bahkan tak bisa membaca Al-Qur’an dan tak pernah sholat.
Namun, hidup Arman mulai berubah ketika ia bertemu Sarah.
Sarah adalah putri seorang ustadz yang sangat disegani, Pak Haji Karim. Ia sering datang ke terminal untuk membagikan makanan dan mengajak para gelandangan kembali ke jalan yang benar. Sejak pertama kali melihatnya, Arman merasa ada sesuatu dalam diri Sarah yang membuatnya gelisah. Wajahnya bersih, tutur katanya lembut, dan sorot matanya penuh ketenangan.
Suatu sore, Arman yang sedang duduk di bangku terminal memperhatikan Sarah yang membagikan nasi bungkus.
“Kak, mau nasi?” tawar Sarah dengan senyum tulus.
Arman tertawa sinis. “Aku nggak butuh belas kasihan.”
Sarah tetap tersenyum. “Ini bukan belas kasihan. Aku hanya ingin berbagi.”
Arman diam. Ia mengambil nasi bungkus itu tanpa berkata apa-apa. Sejak hari itu, ia sering memperhatikan Sarah dari jauh.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur terminal, Arman yang sedang mabuk berat melihat Sarah berteduh di bawah halte. Ia menghampirinya dengan langkah goyah.
“Hei, Sarah… Kau pikir kau bisa mengubah hidup orang-orang di sini?” ucapnya dengan suara serak.
Sarah menatapnya dengan lembut. “Aku tidak bisa mengubah siapa pun. Hanya hatimu sendiri yang bisa berubah.”
Arman tertawa miring. “Kau tahu aku siapa? Aku Arman, geng terminal! Aku nggak butuh agama, aku nggak butuh Tuhan.”
Sarah terdiam sejenak lalu berkata pelan, “Arman… kau hidup bebas, tapi apakah kau bahagia?”
Arman tercekat. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar kepalanya. Apakah ia bahagia? Setiap malam ia tertidur dalam mabuk, setiap pagi ia terbangun tanpa arah. Ia tak punya keluarga, tak punya masa depan. Hidupnya kosong.
Sarah melanjutkan, “Kau tahu, Tuhan selalu ada untukmu. Dia tidak pernah pergi, meskipun kau melupakan-Nya.”
Arman menggeleng kuat. “Jangan bicara tentang Tuhan di depanku! Aku bukan orang baik.”
Sarah tersenyum lembut. “Tapi kau bisa menjadi baik. Tidak ada kata terlambat untuk berubah.”
Malam itu, Arman pulang dengan pikiran yang kacau. Kata-kata Sarah terngiang di kepalanya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, sesuatu terjadi. Arman terlibat perkelahian dengan geng rival. Ia dihajar habis-habisan, tubuhnya penuh luka. Dalam keadaan sekarat, ia dibiarkan tergeletak di gang terminal. Tidak ada satu pun teman-temannya yang peduli.
Saat ia hampir kehilangan kesadaran, samar-samar ia melihat sosok Sarah datang dengan ayahnya, Pak Haji Karim. Mereka membawanya ke rumah mereka.
Saat sadar, Arman melihat Pak Haji Karim duduk di sampingnya.
“Nak, Allah memberimu kesempatan kedua,” kata Pak Haji Karim lembut.
Arman terdiam. “Kenapa… kenapa kalian menolongku?”
“Karena setiap orang punya kesempatan untuk berubah, Arman. Bahkan Rasulullah pun mencintai mereka yang tersesat dan ingin kembali,” jawab Pak Haji Karim.
Sejak hari itu, hidup Arman berubah. Ia mulai belajar sholat, membaca Al-Qur’an, dan meninggalkan dunia hitamnya. Sarah dan keluarganya membimbingnya perlahan.
Lima tahun kemudian, Arman telah menjadi pribadi yang berbeda. Ia mendirikan komunitas untuk membantu anak-anak jalanan agar tidak mengalami nasib yang sama dengannya dulu. Dan yang lebih membahagiakan, ia menikahi Sarah, gadis yang telah mengubah jalan hidupnya.
Cinta telah mengajarkan Arman tentang makna hidup yang sesungguhnya. Ia tidak hanya menemukan Sarah, tetapi juga menemukan Tuhan yang selama ini ia abaikan.